Sabtu, 05 Desember 2009

PENDIDIKAN DALAM AL QUR’AN



A. Pedahuluan

Pendidikan atau Tarbiyah berasal dari kata “Rabaa – yarbu – riban wa rabwah” yang berarti berkembang, tumbuh dan subur.
Menurut bahasa Yunani pendidikan berasal dari kata “pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” sedangkan “agogos” yang artinya “membimbing” sehingga paedagogi dapat di artikan sebagai “ ilmu dan seni mengajar anak”
Kamus Bahasa Indonesia, 1991 : 232 pendidikan berasal dari kata “didik” lalu kata itu mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara atau menberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Arti Pendidikan menurut UU No 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran dan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian, pendidikan Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhya, maka sudah sewajarnyalah untuk dapat memahami hakikat pendidikan terutama pendidikan Islam.
Ilmu lazim dirumuskan sebagai kumpulan pengetahuan tentang sesuatu objek menurut metode tertentu yang merupakan kesatuan dalam susunan yang sistimatis. Pada dasarnya ilmu adalah suatu metode untuk memperoleh kenyataan dan kejelasan tentang sesuatu objek serta metode pemecahan persoalan. Ilmu adalah usaha manusia yang dilakukan dengan mengamat-amati sesuatu gejala (psikis atau alam fisik), mengumpulkan data, menggolongkan dan menganalisanya.
Dalam Islam, ilmu merupakan persoalan pokok dalam ajarannya, Al Qur’an dan Hadis Nabi sering menyebutkan pentingnya ilmu. Ilmu dalam Islam merupakan sarana untuk memahami dan memberi kejelasan dari petunjuk agama dalam Al Qur’an sebagai kalam Allah dan Hadis Nabi, serta memperoleh kejelasan tentang alam semesta yang terbentang sebagai ciptaan Tuhan, untuk dikomunikasikam kepada manusia dan difungsikan kedalam kehidupannya dalam rangka menyempurnakan Islam, Iman dan Ihsannya. Ilmu tersebut dapat dibentuk dengan jalan deduksi langsung dari nash Al Qur’an dan Hadis atau dengan jalan induksi atau dengan jalan lainnya.
Al-qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi (Al-Baqarah : 30). Esensi makna Khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia brtugas untuk memelihara dan memanfaatka alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yanng menompangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut. Potensi tersebut meliputi potensi jasmani dan rohani.
Disisi lain, disamping manusia berfungsi sebagai khalifah, juga bertugas untuk mengabdi kepada Allah (Az-Zazirat, 56). Dengan demikian manusia itu mempunyai fungsi ganda, sebagai khalifah dan sekaligus sebagai abd. Fungsi sebagai khalifah tertuju kepada pemegang amanah Allah untuk penguasaan, pemanfaatan, pemeliharaan, pelestarian alam raya yang berujung kepada pemakmurannya. Fungsi ‘abd bertuju kepada penghambaan diri semata-mata hanya kepada Allah.
Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang kompherehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.



B. Ayat – ayat yang berhubungan dengan Pendidikan

Ayat – ayat yang berhubungan dengan pendidikan dan penafsiran dari ayat tersebut diantaranya :
Q.S ALI IMRON ayat 14,













Yang artinya:
“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yanng diingini, yaitu wanita – wanita, anak – anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang – binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”


Maulana Muhammad Ali, menafsirkan bahwa ayat ini membahas perbedaan yang mencolok antara apa yang dirindukan kaum ahli dunia dan apa yang dirindukan kaum mukmin. Disini kita diberitahu bahwa sekalipun kesenangan duniawi mempunyai daya penarik, namun keinginan untuk mendekat kepada Allah merupakan tujuan yang sangat didambakan oleh kaum mukmin. Tumpukan barang berharga dari emas dan perak itulah yang menyebabkan kaum nasrani semakin jauh dari Allah.
Sedangkan Ibnu Katsier dalam tafsirnya menerangkan bahwa Allah SWT, memberi tahu tentang apa yang disukai dan dicintai manusia dalam kehidupan dunia ini merupakan bermacam-macam kesenangan dan kelezatan seperti wanita-wanita dan anak-anak, dalam ayat ini beliau lebih dahulu menyebutkan wanita, karena fitnah , godaan dan gangguan yang disebabkan oleh wanita lebih sering dan lebih kuat. Sebagaimana di sabdakan oleh rosulullah SAW, yang artinya “ aku tidak meninggalkan dibelakangku suatu fitnah yang lebih bahaya bagi pria daripada fitnahnya wanita”
Dalam diri manusia dilengkapi dan di hiasi rasa cinta, senang dan suka serta condong terhadap syahwat keinginan. Pertama-tama rasa cinta terhaddap wanita karena dorongan dan rangsangan untuk bersuka cita dengan wanita itu lebih besar dan lebih kuat dari pada lainnya. Yang kedua rasa cinta kepada keturunan dan anak-anak buah hati cahaya mata. Yang ketiga rasa cinta terhadap kekayaan yang banyak berlimpah seperti : emas, perak, kendaraan, binatang ternak, sawah ladang dan lain-lain. Semua hanyalah kesenangan semata-mata dan perhiasan selama hidup di dunia ini yang sifatnya tidak kekal, sedikit dan akan rusak, sedangkan tempat kembali dan pahala dengan segala kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi hanyalah disisi Allah di akhirat nanti.
Dalam ayat ini tidak menunjukkan adanya larangan yang jelas untuk mencintai memiliki wanita, anak-anak dan harta benda, asalkan dengan cara yang sah dan halal sesuai dengan syariat ajaran islam. Akan tetapi dibalik itu nampaknya ada larangan atau peringatan halus serta kewaspadaan untuk tidak berlebih-lebihan atau bermewah-mewah sampai berfoya-foya dan mubazir. Hal itu tersirat dalam pemberitahuan Allah bahwa itu semua hanyalah kesenangan dunia yang sifatnya sementara dan tidak kekal, tetapi hendaknya kecintaan itu disalurkan kepada hal yang berguna dan bermanfaat demi mengharapkan pahala yang sebesar-besarnya disisi Allah..






Q.S AN NAHL ayat 78





Yang artinya;
“ Dan Allah mengelluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati , agar kalian bersyukur.”

Allah mengeluarkan kamu dari rahim ibu yang pada asalnya kamu tidak mengetahui sesuatu ilmu apapun. Dan Allah jadikan bagi kamu indra yang lengkap, sehingga kamu dapat mendengar, dapat berfikir, dapat meraba dan merasa, sehingga kamu dapat bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang telah engkau terima dari pemberian-NYA.
Manusia itu diperintahkan untuk beriman dan bersyukur kepada Allah atas pemberian nikmat-NYA, baik yang ada dan terasa dalam diri maupun yang berada diluar dirinya.
Manusia diperintahkan supaya berterimakasih kepada kedua ibu bapak dengan senantiasa taat dan berbakti serta menghormati dan memulyakan keduanya, senantiasa taat dan berbakti serta menghormati dan memulyakan keduanya, senantiasa mengikuti nasihatnya yang baik dan tidak boleh berbuat durhaka kepada keduanya . kedua orang tua telah bersusah payah memelihara, mendidik dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Kewajiban yang pertama dan yang utama bagi manusia adalah mencari ilmu dan memilihnya, mana yang baik untuk diterima dan dikerjakan dan mana dan mana yang buruk untuk ditinggalkan.
Manusia dikaruniai Allah modal hidup yang sangat vital, yaitu indra yang tidak bisa dibuat oleh manusia. Melalui indra itu manusia dapat menerima ilmu untuk diteruskan dan diolah dalam akal fikiran kemudian diteruskan kedalam sanubari untuk dijadikan modal keyakinan atau kepercayaan yang akhirnya akan muncul kembali melalui anggota badan sebagai prilaku hidup manusia.

QS Al Isra ayat 70





Yang artinya:
‘Dan sungguh telah kami mulyakan anak-anak Adam dan telah kami beri kendaraan didarat dan dilaut dan mereka kami beri rizki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk kami dengan sebenar-banar kelebihan’

Manusia diberikan oleh Allah kelebihan-kelebihan yang nyata dan yang tersembunyi dalam diri dan jasadnya, kelebihan dari makhluk yang lain, hal tersebut berarti mengandung konsekwensi dan tanggung jawab dihadapan Allah Sang Penciptanya. Lain halnya dengan makhluk seperti binatang dan makhluk lainnya yang tidak diberi keistimewaan lebih dari manusia .
Allah telah memulyakan manusia lebih dari makhluk-makhluk lainnya, antara lain karena:
1. Mulia karena akal fikiran, manusia dengan akalnya bisa menerrima ilmu dan pelajaran serta menguasai makhluk-makhluk lainnya.
2. Manusia mulia karena hati sanubarinya. Hatinya yang suci dan bersih tidak pernak berbuat bohong, sekalipun ucapan dan perbuatannya pandai berbuat dusta.hatinya dapat melihat, mendengar dan merasakan, dapat menerima dan menolak, dapat mempercayai dan mengingkari. Dan didalam hati itu iman bersemayam, tumbuh dan berkembang, tegak dan kuat.
3. Manusia mulia karena rasa dan perasaannya. Apa yang jahat dapat dikuasai dan ditekan dengan iman yang kuat. Perasaan yang baik dapt tumbuh dan berkembang serta dapat dirasakan selain oleh dirinya dapat juga dirasakan oleh makhluk lainnya. Dan sebagai puncaknya manusia mempunyai rasa dan perasaan yaitu syukur kepada Allah SWT.
4. Manusia mulia karena memiliki bentuk dan rupa badan jasmani yang utuh sempurna indah dipandang.
5. Manusia mulia karena dapat mengembara dimuka bumi, dilaut dan diangkasa dengan berbagai macam kendaraan buatan sendii.
6. Manusia mulia karena diberi rizki oleh Allah , dari berbagai macam ragam makanan, buah-buahan dan minuman yang baik-baik, lezat dan bergizi.













C. Kesimpulan


Menurut Maulana Muhammad Ali, menafsirkan Bangsa Arab adalah ummi, bangsa yang tidak dapat membaca dan menulis, kecuali hanya sebagian kecil saja, nabi Muhamad sendiri tidak dapat menulis dan membaca, namun demikian wahyu pertama yang beliau terima adalah suatu perintah supaya membaca. Arti perintah ini dijelaskan dalam surat al alaq ayat 1, adapun ayat 2 adalah sisipan yang menerangkan asal mula manusia. Perintah supaya membaca itu diulang dalam ayat 3 dengan tambahan kalimat bahwa Allah itu yang paling murah hati, sekedar untuk menunjukkan bahwa dengan jalan membaca dan menulis, manusia dapat mencapai derajat yang mulia, sedangkan ayat 4 menerangkan bahwa ilmu itu diperoleh dengan menjalankan pena.
Peristiwa yang menyangkut turunnya wahyu yang pertama diuraikan dalam beberapa hadits shahih dan dari hadits-hadits ini terang sekali bahwa jawaban Nabi Muhamad SAW yang pertama kali kepada Nabi Muhamad pertama kali kepada malaikat yang mengemban wahyu ini adalah bahwa beliau tidak dapat membaca.
Sebenarnya Allah telah memulyakan manusia ssehingga ia bisa berjalan diatas daratan, berlayar dilautan sebagai ikan dan terbang laksana burung. Selain itu Allah telah menganugrahinya serba jenis makanan yang lezat rasanya dan rezeki yang tidak ternilai harganya. Pada jaman sekarang nampak jelas kelebihan manusia dari makhluk lainnya, karena ia telah dapat menggunakan tenaga alam.
Tetapi amat sayang kebanyakan kaum muslimin belum mendapat kelebihan yang tinggi itu, karena mereka tidak menuntut ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kepandaian baru itu.
Prophet Muhammad: The Leader*

Prophet Muhammad had all the necessary qualities for success in every aspect of life. But, more importantly, he was able to lead his community to success in every field. He is the source from which flowed all later developments related to command, statecraft, religion, spiritual development, and so on in the Muslim world.
In general, leaders should have the following qualities:
• Realism. They should understand prevailing conditions as they actually are and be aware of any advantages and disadvantages.
• Absolute belief in their message. Their conviction should never falter, and they should never renounce their mission.
• Personal courage. Even if left alone, they should have enough courage to persevere. When some of his pursuers reached the mouth of the cave in which they were hiding, Abu Bakr was afraid something would happen to the Messenger. However, the Prophet only said, "Grieve not, for God is with us" (At-Tawbah 9:40).
• Strong willpower and resolve. They should never experience even one moment of hopelessness.
• Awareness of personal responsibility. Everything should be directed toward fulfilling this responsibility. In no way should they be seduced by the world's charms and life's attractions.
• Far-sighted and goal-centered. Leaders should be able to discern and plan for potential developments. They should know how to evaluate the past, present, and future to reach a new synthesis. Those who frequently change their opinions only spread chaos in the community.
• Personal knowledge of each follower. Leaders should be fully aware of each follower's disposition, character, abilities, shortcomings, ambitions, and weak points. If they lack this knowledge, how can they fill vacant posts with the appropriate people?
• Strong character and praiseworthy virtues. Leaders should be determined but flexible while carrying out decisions, and know when to be unyielding and implacable or relenting and compassionate. They should know when to be earnest and dignified, when to be modest, and they should always be upright, truthful, trustworthy, and just.
• No worldly ambitions or abuse of authority. Leaders should live like the poorest members of their community. They should never discriminate among their subjects; rather, they should strive to love them, prefer them over themselves, and act so that their people will love them sincerely. They should be faithful to their community, and secure their community's loyalty and devotion in return.
The Messenger possessed all of these qualities and many more as well. To cite only a few examples, he never even thought of abandoning his mission when confronted with great hostility and tempting bribes. Instead, he would tell them, "Say: 'There is no god but Allah,' and prosper (in both worlds)" (Al-Hakim). When his Companions complained about the harsh conditions and persecution in Makkah, he answered, "By Allah, Allah will bring this matter (the establishment of Islam) to its consummation till a rider will travel from San`a' (in Yemen) to Hadramaut fearing none but Allah, or a wolf as regards his sheep, but you (people) are hasty" (Al-Bukhari).
PERAN PENDIDIKAN ISLAM
DALAM ERA GLOBALISASI


Pendahuluan
Pendidikan adalah suatu proses upaya untuk meninngkatkan nilai-nilai prilaku seseorang atau kelompok dari keadaan tertentu menjadi suatu keadaan yang lebih baik. Pendidikan sebagaimana dalam Undang-undang Nomor 2 tahun
1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang isinya tentang: Pendidikan dalam
Penyelenggaraannya dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah (UU RI.NO 2; 10 AYAT 1, 1990:5). Pendidikana jalur sekolah berarti pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
Pendidikan berasal dari kata didik diberi awalan pe- dan akhiran –an. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya penngajaran dan pelatihan. Dalam bahasa inggris istilah pendidikan disebut education berarti pengembangan dan bimbingan. Menurut Naquib Al-attas istilah pendidikan secara konseptual dikaitkan daengan kata-kata latin educate atau dalam bahasa inggris educe yang berarti menghasilkan, mengembangkan dan mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik maupun material.
Kehadiran pendidikan Islam, baik ditinjau secara kelembagaan maupun nilai-nilai yang ingin di capainya masih sebatas memenuhi tuntutan bersifat formalitas dan bukan sebagai tuntutan yang bersifat substansial, yakni tuntutan untuk melahirkan manusia-manusia aktif penggerak sejarah. Walaupun dalam beberapa hal terdapat perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan yang terjadi sangat lamban , sementara gerak perubahan masyarakat sangat cepat, maka disini pendidikan Islam terlihat selalu tertinggal dan arahnya semakin terbaca tidak jelas.
Dalam skala sistem pendidikan nasional, pendidikan agama merupakan salah satu unsure pendidikan sekolah dan luar sekolah yang memiliki peranan teramat penting dalam rangka mempersiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan sehingga menguasai pengetahuan khusus tentang ajaran agama guna menjalankan peranannya di masa-masa yang akan datang (GBHN, 1986:6).
Dalam perkembangannya pendidikan Islam telah melahirkan dua pola pemikiran yang kontradiktif, keduanya mengambil bentuk yang berbeda, baik pada aspek materi, sistem pendekatan atau dalam bentuk kelembagaan sekalipun. Dua model bentuk yang dimaksud adalah pendidikan islam yang bercorak tradisional dan pendidikan islam yang bercorak modern.
Di Indonesia, salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang pertama dan tertua adalah pesantren atau pondok pesantren (Yusuf Amir Feisal, 1995 : 194). Pondok pesantren pada dasarnya adalah sebuah sarana pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seseorang atau lebih guru yang lebih dikenal sebutan “kyai”. Sementara sarana untuk siswa tersebut berada dalam lingkungan kompleks dimana kyai tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid ubtuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.
Perubahan masyarakat yang terpenting pada awal abad ke-21 ini, ditandai dengan perkembangn teknologi komunikasi, transfortasi, dan informasi yang sedemikian cepat. Dengan itu dunia semakin “kecil” dan mudah di jangkau. Apa yang terjadi dibelahan bumi paling ujung dapat segera diketahui oleh masyarakat yang berada di ujung lain.
Dari sisi politik dapat dikatakan bahwa masyarakat global dewasa ini sangat dekat dengan isu-isu popular, seperti keterbukaan, hak asasi manusia, dan demokratisasi. Demikian pula dari sudut ekonomi, perdagangan dan pasar internasional.
Proses globalisasi dianggap berpengaruh atas kelangsungan perkambangan identitas tradisional dan nilai-nilai agama. Kenyataan tearsebut tidak lagi dapat dibiarkan oleh masyarakat agama. Karenanya, respon-respon kontruksif dari kalangan pemikir dan aktivitas agama terhadap fenomena diatas menjadi sebuah keharusan. Sebenarnya yang terjadi adalah dialog positif antara prima facie norma-norma agama dengan dengan realitas empirik yang selalu berkembang. Meskipun demikian penting untuk dicatat, bahwa pertemuan masyarakat agama dengan relitas empiric tidak selalu mengambil bentuk wacana dialog yang konstruktif. Alih-alih yang muncul adalah mitos-mitos ketakutan yang membentuk kesan, bahwa globalisasi dengan serta merta menyebabkan posisi agama berada di pinggiran.
Kekhawatiran-kekhawatiran diatas sepenuhnya dapat dipahami. Meskipun demikian, hendaknya masyarakat agama tidak kehilangan penglihatan yang lebih luas. Sebanding dengan berkembangnya proses globalisasi kehidupan social politik Amerika menyebut contoh kasus sebuah Negara yang sering dipandang sebagai secular bergerak kekanan. Fenomena ini menandai bangkitnya kesadaran kolektif akan arti penting agama dalam kehidupan social, budaya, ekonomi dan politik Negara itu.














Peran Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan Islam mennurut beberapa ahli pendidikan sebagai berikut :
1. Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa pendidikan merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkakn hkum-hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam.
2. Abdul Rahmat Nahlawi mengatakan bahwa pendidikan pengaturan pribadi masyarakat secara logis maupun kolektif.
3. Burian Somad mengatakan pendidikan Islam bertujuan membentuk individu menjadi maluk yang bercorak diri dan berderajat menurut ukuran Allah SWT.
4. Musthafa Al-Gulayani mengatakan pendidikan Islam bertugas menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan petunjuk dan nasehat sehingga akhlak itu menjadi kemampuan jiwanya.
5. Hasan Langgulung mengatakan pendidikan Islam meliputi tiga fungsi yakni pertama menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat, kedua memindahkan ilmu pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda, dan ketiga memindahkan nilai-nilai yang bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat.
Ilmu agama adalah suatu ilmu yang mengatur tata cara keimanan, peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan lingkungannya.
Baik secara teologi maupun sosiologi, agama dapat dipandang sebagai instrument untuk memahami dunia. Dalam koontrks ini hampir tak ada kesulitan bagi agama manapun untuk menerima premis tersebut. Secara teologis lebih lebih islam. Hal iitu dukarenakan oleh watak omnipresent agama. Yaitu, agama baik melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya ”hadir di mana-mana” ikut mempengaruhi bahkan membentuk struktur sosial, budaya, ekonomi dan politik dan kebijakan publik.
Dari uraian diatas pendidikan islam berarti bimbingan yang dilakukan seseorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan supaya terdidik mempunyai kepribadian muslim. Dan hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan baik laki-laki maupun perempuan dan berlangsung sepanjang hayat. Dalam pendidikan islam mempunyai rumusan yang jelas dalam bidang tujuan, guru, metode dan sarana.
Dilihat dari sejarahnya Pendidikan Islam meliputi:
Periode pembinaan islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Periode pertumbuhan pendidikan islam yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah.
Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan islam yang berlangsung sejak permulaan Daulat Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu aqliyah dan timbulnya Madrasah Siria, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan islam.
Periode kemunduran pendidikan islam. Yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ketangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.
Periode pembaharuan pendidikan islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditandai oleh gejala-gejala kebangkitan umat dan kebudayaan islam.
Selanjutnya dilihat dari segi kelembagaannya pendidikan Islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan di rumah, masjid, pesantren dan madrasah dengan berbagai macam corak pendekatannya.
Didalam al Qur’an dapat di jumpai berbagai metode pendidikan seperti metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, demontrasi, penugasan, teladan, pembiayaan, karyawisata, cerita, hukuman, nasihat dan sebagainya. A-Qur’an meletakan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinya manusia itu memiliki potensi yang menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut
Dalam islam dikenal teori pendidikan islam, yaitu pendidikan sebagai disiplin ilmu yang yang merupakan konsep pendidikan. Melalui pendidikan manusia belajar menghadapi alam semesta demi mempetahankan kehidupannya. Begitu pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukan yang tinggi dalam dalam ajaran islam.
Tujuan pendidikan islam menurut ahli pendidikan sebagai berikut :
Ibnu Khaldun mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri dari dua bagian, pertama tujuan keagamaan, maksudnya beramal untuk akhirat, dan kedua tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan.
Al Ghazali berpendapat tujuan pendidikan Islam yang utama adalah Ibadah dan taqarrub kepada allah serta kesempurnaan insani dunia dan akhirat.
Saleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abul Nazid berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam adalah untuk mendapatkan keridaan Allah dan mengusahakan penghidupan.
Musthafa Amin mengatakan tujuan pendidikan adalah mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat.
Al-Abrasy merumuskan tujuan pendidikan Islam dalam lima pokok. Pertama pembentukan akhlak mulia. Kedua persiapan untuk hidup dunia dan akhirat. Ketiga persiapan untuk mencari rezeki danpemeliharaan segi kemanfaatan. Keempat menumbuhkan roh ilmiah para remaja dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu. Kelima mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehungga mudah untuk mencari rezeki.
Abdul Fayad berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam terdiri dari dua bagian. Pertama persiapan untuk hidup akhirat. Kedua membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesannya hidup bahagia.
Pendidikan Islam memiliki rumusan yang jelas, yaitu bidang tujuan, kurikulum, guru, metode dan sarana. Tujuan pendidikan dalam islam adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah pendidikan berakhir.
Tiga klasifikasi tujuan pendidikan adalah sebagai berikut.
Tujuan umum adalah tujuan yang akan tercapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.
Tujuan semester adalah tujuan yang di capai setelah siswa diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum.
Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar siswa menjadi manusia sempurna setelah ian menghabisi sisa hidupnya.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir pendidikan islam, maka suatu permasalahan pokok yanng sangat perlu mendapt perhatian adalah penyusunan rancangan program pendidikan yang di jabarkan dalam kurikullum. Pengertian kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman pendidikan yang dirancang dan diselenggarakannya oleh lembaga pendidikan bagi peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Dalam kurikulum pendidikan islam dikenal dengan istilah Manhaj berarti jalan terang yang dilalui pendidikan bersama siswa untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa. Ciri-ciri kurikulum pendidikan islam adalah sebagai berikut :
1. Agama dan akhlak merupakan tujuan utama. Segala yang di ajarkan dan yang di amalkan harus berdasarkan Alquran dan sunah serta ijtihad para ulama.
2. Mempertahankan pengembangan dan bimbingan terhadap semua asfek pribadi siswa dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.
3. Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum, pengalaman dan kegiatan pengajaran.
Adapun prinsip menentukan kurikulum adalah sebagai berikut :
1. Mata pelajaran dapat berpengaruh terhadap pendidikan, jiwa dan kesempurnaan jiwa siswa.
2. Mata pelajaran yang diberikan memberikan petunjuk dan tuntutan untuk menjalani hidup yang mulia.
3. Mata pelajaran sebaiknya secara langsung dapat memberikan manfaat bagi siswa didik dalam hidupnya.
4. Mata pelajaran hendaknya mencerminkan pendidikan kejiwaan yang sesuai dengan bakat dan keinnginan siswa.
5. Mata pelajaran hendaknya dapat menjadi alat pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.
Berpedoman ruang lingkup pendidikan islam yang ingin di capai, maka kurikulum pendidikan islam itu berorientasi pada tiga hal yaitu :
!. Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah)
2. Tercapainya hubungan hablum minannas (hubungan dengan manusia)
3. Tercapainya tujuan hablum minal alam (hubungan dengan alam)
Ketiga permasalahan pokok pendidikan Islam di Indonesia itu melahirkan beberapa problema lainnya seperti structural, cultural dan sumber daya manusia. Pertama, secara structural lembaga-lembaga islam negeri berada langsunng di bawah control dan kendali Departemen Agama, termasuk pembiyaan dan pendanaan. Problema yang timbul adalah alokasi dana yang di kelola oleh Departemen Agama sangat terbatas. Dampaknya kekurangan fasilitas peralatan dan juga terbatasnya upara pengembangan dan kegiatan non fisik. Berkenaan dengan masalah struktural ini juga lembaga Pendidikan Islam dihadapkan pula dengan persoalan dengan diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah. Bagaiman kebijakan Departemen Agama tentang hal ini. Di satu sisi masalah pendidikan termasuk salah satu dari bagian yang pengelolaannya di serahkan ke daerah, sedangkan masalah agama tetap berada pengelolaannya di pusat. Sehubungan dengan itu perlu dikaji secara cermat dan arif yang melahirkan kebijakan yang tetap mempertahankan eksistensi lembaga pendidikan Islam dan juga perlakuan yang adil dan merata dari segi pendalaman.
Kedua kultural, lembaga pendidikan islam terutama pesantren dan madrasah banyak yang menganggapnya sebagai lembaga pendidikan “kelas dua”. Sehingga persepsi ini mempengaruhi masyarakat muslim untuuk memasukan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut. Pandangan yang menganggap lembaga pendidikan islam tersebut sebagai lembaga pendidikan ”kelas dua” dapat dilihat dari outputnya, guru dan sarana pendidikan yang terbatas. Dampaknya adalah jarangnya masyarakat muslim yang terdidik dan berpenghasilan yang baik, serta yang memiliki kedudukan / jabatan, memasukan anaknya ke lembaga pendidikan Islam seperti di atas.
Ketiga sumber daya manusia, para pengelola dan pelaksana pendidikan di lembaga pendidikan Islam yanng terdiri dari guru dan tenaga administrasi perlu di tingkatkan. Tenaga guru dari gi jumlah dan profesional masik kurang. Guru bidang umum (Matematika, IPA, Biologi, Kimia dan lain-lain) masih belum mencukupi.
Melihat masa depan yang akan datang yang penuh dengan tantangan sudah barang tentu tidak bisa menyesuaikan permasalahan jika pendidikan Islam tersebut masih terikat dikhotomi. Berkenaan dengan itu masih perlu diprogramkan upaya pencapaiannya, mobilisasi pendidikan Islam tersebut, misalnya melakukan rancangan kurikulum, baik merancang keterkaitan ilmu agama dan umum maupun merancang nilai-nilai Islami pada setiap pelajaran, personifikasi pendidik di lembaga pendidikan sekolah islam, sangat dituntut memiliki jiwa keislaman yang tinggi dan lembaga pendidikan Islam yang dapat merealisasikan konsep kurikulum pendidikan Islam seutuhnya.








Peranan Ilmu Pendidikan pada Era Globalisasi

Kehidupan manusia ingintetap terpelihara dengan baik, dan ilmu pengetahuan sosial di harapkan dapat menjadi salah satu alternatif yang strategis bagi pengembangan manusia Indonesia seutuhnya pada era globalisasi tersebut.
Globalisasi adalah proses pertumbuhan negara-negara maju, yaitu Amerika, Eropa dan Jepang melakukan ekspansi besar-besaran, kemudian berusaha mendominir dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer dan ekonomi.
Pengaruh mereka disegala bidang terhadap negara-negara berkembang yang baru terlepas dari belenggu penjajahan berdampak positif dan negatif sekaligus. Berdampak positif karena ada beberapa segi ikut mendorong negara-negara baru berkembang ikut maju secara teknis, sserta menjadi lebih sejahtera secara material. Sedangkan dampak negatifnya antara lain berupa: (1) munculnya teknorasi dan tirani yang sangat berkuasa. (2) didukung oleh alat-alat teknik modern dan persenjataan yang canggih.
Bukan hanya ilmu pengetahuan, mesin-mesin, pessawat hipermodern dan persenjataan sering di salah gunakan. Dijadikan mekanisme operasionalistik yang menjarah dan menghancurkan. Sebagai akibatnya timbul peperangan, penderitaan dan malapetaka di dunia. Negara-nagara maju itu pada berbagai segi, terutama di bidang teknis, ilmu pengetahuan dan manajerial memiliki segugus besar kelebihan dan kelimpahan, berupa science, teknik canggih, industri dan produksi yang berlimpah. Karena itu semua kelimpahan tadi perlu di disbustrikan keluar, dan di jadikan barang dagangan yang menguntunngkan. Oleh sebab itu mereka memerlukan laha pasar lebih luas lagi untuk menjual kelebihan hasil produksinya. Maka langkah niaga mereka yang semula spontan, damai, ramah, humaniter dan fasifistis, kemudian berubah menjadi agresif, ekspansif, eksploitatif, menjarah dan imperialistik. Tidak lama kemudian mereka menjadi kekuatan neo-kolonialisme (militer- politik-ekonomi) yang cepat mengembangkan ssayap kekuasaannya ke negara-negara yang lemah sistem perekonomiannya.
Sehubungan dengan nafsu ekspansi mereka itu, teknik dan ilmu pengetahuan yang di jadikan alat politik dan alat ekonomi perlu disamarkan. Misalnya dalam bentuk misi bantuan pengembangan, program pembangunan daerah miskin, misi perdamaian, tugas kemanusiaan, program kerjasama pendidikan, misi kebudayaan dan lain-lain. Maka berkaitan dengan derasnya arus globalisasi yang di tunggangi aksi-aksi kolonial tersembunyi perlu lebih meningkatkan kewaspadaan nasional, di samping memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Globalisasi melibatkan pasar kapitalitas dan seperangkat relasi sosial dan aliran komoditas, kapital dan teknologi, ide-ide, bentuk kultur dan penduduk yang melewati batas nasional via jaringan masyarakat global, transmutasi teknologi dan kapital bekerja sama menciptakan dunia baru yang mengglobal dan saling behubung. Revoluasi teknologi yang menghasilkan jaringan komunikasi komputer, transportasi dan pertukaran merupakan pra-anggapan dari ekonomi global, bersama dengan perluasan dari sistem pasar kapitalis dunia yang menarik lebih banyak area dunia dan ruang produksi, perdagangan dan konsumsi ke alam orbitnya.
Globalisasi berarti bahwa mulai sekarang tidak ada kejadian di planet kita yang hanya pada situasi lokal terbatas. Semua temuan, kemenangan dan bencana mempengaruhi seluruh dunia. Globalitas adalah proses baru setidaknya: pertama, pengaruhnya atas ruang geografis jauh lebih ekstensif. Kedua, pengaruhnya atas waktu jauh lebih stabil, pengaruhnya terus berlanjut dari waktu ke waktu. Ketiga, ada densitas (density) yang lebih besar untuk ”jaringan transnasional, hubungan dan arus pekerjaan jaringan”.
Ada dua event yang hampir bersamaan munculnya pada saat bangsa Indonesia memasuki milenium ketiga. Pertama globalisasi, diakibatkan kemajuan ilmu dan teknologi terutama komunikasi dan transfortasi sehingga dunia semakin tanpa batas. Dalam budaya global ini ditandai dalam bidang ekonomi perdagangan akan menuju terbentuknya pasar bebas, baik dalam kawasan ASEAN, Asia Pasifik bahkan akan meliputi seluruh dunia. Dalam bidang politik akan tumbuh semangat demokratisasi.
Dalam bidang budaya akan terjadi pertukaran budaya antar bangsa yang berlangsung begitu cepat dan saling mempengaruhi, dalam bidang sosial akan muncul semangat konsumeris yang tinggi disebabkan pabrik-pabrik yang memproduksi kebutuhan konsumeris akan berupaya memproduk barang-barang baru akan bertukar dengan cepat pada tiap saat dan merangsang manusia untuk memilikinya.
Event kedua adalah reformasi, dalam era reformasi ini diharapkan akan muncul Indonesia baru. Wajah baru Indonesia ini adalah wajah baru yang akan memunculkan madani, yakni masyarakat berperadaban dengan menekankan kepada demokratisasi dan hak-hak manusia, serta hidup dala berkeadilan.


Kesimpulan
Dari berbagai uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Ilmu-ilmu keislaman yang selama ini terkesan tertutup, sebenarnya tetap konsis dapat diaktualisasikan, dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman. Mengembangkan ilmu-ilmu keislaman, harus melengkapi dirinya dengan ilmu Bantu dan menguasai teori-teori penelitian lengkap dengan metodenya, baik secara teoritis maupun praktis.
Pemahaman agama yang komprehensif, actual, segar dan integral telah memberikan petunjuk praktis tentang bagaimana ilmu agama itu dipelajari dan diajarkan. Dengan cara ini, umat islam dapat memahami agama yang utuh dan integral. Juga dapat mengembangkan dan merespons berbagai persoalan actual dalam kehidupan modern.
Pendidikan agama sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status social, alat menguasai teknologi, serta media untuk menguak rahasia alam raya dan manusia.
Pendidikan islam bertujuan membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniah menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta dengan cara mengembangkan aspek struktural, kultural dan berupaya meningkatkan sumber daya manusia guna mencapai taraf hidup yang pari purna.
Era globalisasi memunculkan era kompetisi yang berbicara keunggulan, hanya manusia unggul yang akan survive didalam kehidupan yanng penuh persaingan, karena itu salah satupersoalan yang muncul, bagaimana upaya untuk meningkatkan kuallitas manusia Indonesia. Membentuk manusia unggul partisipatoris, yakni manusia yang ikut serta aktif dalam persingan yang sehat untuk mencari yang terbaik. Keunggulan partisipatoris dengan sendirinya berkewajiban untuk menggali dan mengembangkan seluruh potensi manusia yang akan digunakan dalam kehidupan yang penuh dengan persaingan.