PENDIDIKAN DALAM AL QUR’AN
A. Pedahuluan
Pendidikan atau Tarbiyah berasal dari kata “Rabaa – yarbu – riban wa rabwah” yang berarti berkembang, tumbuh dan subur.
Menurut bahasa Yunani pendidikan berasal dari kata “pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” sedangkan “agogos” yang artinya “membimbing” sehingga paedagogi dapat di artikan sebagai “ ilmu dan seni mengajar anak”
Kamus Bahasa Indonesia, 1991 : 232 pendidikan berasal dari kata “didik” lalu kata itu mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara atau menberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Arti Pendidikan menurut UU No 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran dan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian, pendidikan Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhya, maka sudah sewajarnyalah untuk dapat memahami hakikat pendidikan terutama pendidikan Islam.
Ilmu lazim dirumuskan sebagai kumpulan pengetahuan tentang sesuatu objek menurut metode tertentu yang merupakan kesatuan dalam susunan yang sistimatis. Pada dasarnya ilmu adalah suatu metode untuk memperoleh kenyataan dan kejelasan tentang sesuatu objek serta metode pemecahan persoalan. Ilmu adalah usaha manusia yang dilakukan dengan mengamat-amati sesuatu gejala (psikis atau alam fisik), mengumpulkan data, menggolongkan dan menganalisanya.
Dalam Islam, ilmu merupakan persoalan pokok dalam ajarannya, Al Qur’an dan Hadis Nabi sering menyebutkan pentingnya ilmu. Ilmu dalam Islam merupakan sarana untuk memahami dan memberi kejelasan dari petunjuk agama dalam Al Qur’an sebagai kalam Allah dan Hadis Nabi, serta memperoleh kejelasan tentang alam semesta yang terbentang sebagai ciptaan Tuhan, untuk dikomunikasikam kepada manusia dan difungsikan kedalam kehidupannya dalam rangka menyempurnakan Islam, Iman dan Ihsannya. Ilmu tersebut dapat dibentuk dengan jalan deduksi langsung dari nash Al Qur’an dan Hadis atau dengan jalan induksi atau dengan jalan lainnya.
Al-qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi (Al-Baqarah : 30). Esensi makna Khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia brtugas untuk memelihara dan memanfaatka alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yanng menompangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut. Potensi tersebut meliputi potensi jasmani dan rohani.
Disisi lain, disamping manusia berfungsi sebagai khalifah, juga bertugas untuk mengabdi kepada Allah (Az-Zazirat, 56). Dengan demikian manusia itu mempunyai fungsi ganda, sebagai khalifah dan sekaligus sebagai abd. Fungsi sebagai khalifah tertuju kepada pemegang amanah Allah untuk penguasaan, pemanfaatan, pemeliharaan, pelestarian alam raya yang berujung kepada pemakmurannya. Fungsi ‘abd bertuju kepada penghambaan diri semata-mata hanya kepada Allah.
Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang kompherehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
B. Ayat – ayat yang berhubungan dengan Pendidikan
Ayat – ayat yang berhubungan dengan pendidikan dan penafsiran dari ayat tersebut diantaranya :
Q.S ALI IMRON ayat 14,
Yang artinya:
“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yanng diingini, yaitu wanita – wanita, anak – anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang – binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Maulana Muhammad Ali, menafsirkan bahwa ayat ini membahas perbedaan yang mencolok antara apa yang dirindukan kaum ahli dunia dan apa yang dirindukan kaum mukmin. Disini kita diberitahu bahwa sekalipun kesenangan duniawi mempunyai daya penarik, namun keinginan untuk mendekat kepada Allah merupakan tujuan yang sangat didambakan oleh kaum mukmin. Tumpukan barang berharga dari emas dan perak itulah yang menyebabkan kaum nasrani semakin jauh dari Allah.
Sedangkan Ibnu Katsier dalam tafsirnya menerangkan bahwa Allah SWT, memberi tahu tentang apa yang disukai dan dicintai manusia dalam kehidupan dunia ini merupakan bermacam-macam kesenangan dan kelezatan seperti wanita-wanita dan anak-anak, dalam ayat ini beliau lebih dahulu menyebutkan wanita, karena fitnah , godaan dan gangguan yang disebabkan oleh wanita lebih sering dan lebih kuat. Sebagaimana di sabdakan oleh rosulullah SAW, yang artinya “ aku tidak meninggalkan dibelakangku suatu fitnah yang lebih bahaya bagi pria daripada fitnahnya wanita”
Dalam diri manusia dilengkapi dan di hiasi rasa cinta, senang dan suka serta condong terhadap syahwat keinginan. Pertama-tama rasa cinta terhaddap wanita karena dorongan dan rangsangan untuk bersuka cita dengan wanita itu lebih besar dan lebih kuat dari pada lainnya. Yang kedua rasa cinta kepada keturunan dan anak-anak buah hati cahaya mata. Yang ketiga rasa cinta terhadap kekayaan yang banyak berlimpah seperti : emas, perak, kendaraan, binatang ternak, sawah ladang dan lain-lain. Semua hanyalah kesenangan semata-mata dan perhiasan selama hidup di dunia ini yang sifatnya tidak kekal, sedikit dan akan rusak, sedangkan tempat kembali dan pahala dengan segala kenikmatannya yang sempurna dan kekal abadi hanyalah disisi Allah di akhirat nanti.
Dalam ayat ini tidak menunjukkan adanya larangan yang jelas untuk mencintai memiliki wanita, anak-anak dan harta benda, asalkan dengan cara yang sah dan halal sesuai dengan syariat ajaran islam. Akan tetapi dibalik itu nampaknya ada larangan atau peringatan halus serta kewaspadaan untuk tidak berlebih-lebihan atau bermewah-mewah sampai berfoya-foya dan mubazir. Hal itu tersirat dalam pemberitahuan Allah bahwa itu semua hanyalah kesenangan dunia yang sifatnya sementara dan tidak kekal, tetapi hendaknya kecintaan itu disalurkan kepada hal yang berguna dan bermanfaat demi mengharapkan pahala yang sebesar-besarnya disisi Allah..
Q.S AN NAHL ayat 78
Yang artinya;
“ Dan Allah mengelluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati , agar kalian bersyukur.”
Allah mengeluarkan kamu dari rahim ibu yang pada asalnya kamu tidak mengetahui sesuatu ilmu apapun. Dan Allah jadikan bagi kamu indra yang lengkap, sehingga kamu dapat mendengar, dapat berfikir, dapat meraba dan merasa, sehingga kamu dapat bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang telah engkau terima dari pemberian-NYA.
Manusia itu diperintahkan untuk beriman dan bersyukur kepada Allah atas pemberian nikmat-NYA, baik yang ada dan terasa dalam diri maupun yang berada diluar dirinya.
Manusia diperintahkan supaya berterimakasih kepada kedua ibu bapak dengan senantiasa taat dan berbakti serta menghormati dan memulyakan keduanya, senantiasa taat dan berbakti serta menghormati dan memulyakan keduanya, senantiasa mengikuti nasihatnya yang baik dan tidak boleh berbuat durhaka kepada keduanya . kedua orang tua telah bersusah payah memelihara, mendidik dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Kewajiban yang pertama dan yang utama bagi manusia adalah mencari ilmu dan memilihnya, mana yang baik untuk diterima dan dikerjakan dan mana dan mana yang buruk untuk ditinggalkan.
Manusia dikaruniai Allah modal hidup yang sangat vital, yaitu indra yang tidak bisa dibuat oleh manusia. Melalui indra itu manusia dapat menerima ilmu untuk diteruskan dan diolah dalam akal fikiran kemudian diteruskan kedalam sanubari untuk dijadikan modal keyakinan atau kepercayaan yang akhirnya akan muncul kembali melalui anggota badan sebagai prilaku hidup manusia.
QS Al Isra ayat 70
Yang artinya:
‘Dan sungguh telah kami mulyakan anak-anak Adam dan telah kami beri kendaraan didarat dan dilaut dan mereka kami beri rizki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk kami dengan sebenar-banar kelebihan’
Manusia diberikan oleh Allah kelebihan-kelebihan yang nyata dan yang tersembunyi dalam diri dan jasadnya, kelebihan dari makhluk yang lain, hal tersebut berarti mengandung konsekwensi dan tanggung jawab dihadapan Allah Sang Penciptanya. Lain halnya dengan makhluk seperti binatang dan makhluk lainnya yang tidak diberi keistimewaan lebih dari manusia .
Allah telah memulyakan manusia lebih dari makhluk-makhluk lainnya, antara lain karena:
1. Mulia karena akal fikiran, manusia dengan akalnya bisa menerrima ilmu dan pelajaran serta menguasai makhluk-makhluk lainnya.
2. Manusia mulia karena hati sanubarinya. Hatinya yang suci dan bersih tidak pernak berbuat bohong, sekalipun ucapan dan perbuatannya pandai berbuat dusta.hatinya dapat melihat, mendengar dan merasakan, dapat menerima dan menolak, dapat mempercayai dan mengingkari. Dan didalam hati itu iman bersemayam, tumbuh dan berkembang, tegak dan kuat.
3. Manusia mulia karena rasa dan perasaannya. Apa yang jahat dapat dikuasai dan ditekan dengan iman yang kuat. Perasaan yang baik dapt tumbuh dan berkembang serta dapat dirasakan selain oleh dirinya dapat juga dirasakan oleh makhluk lainnya. Dan sebagai puncaknya manusia mempunyai rasa dan perasaan yaitu syukur kepada Allah SWT.
4. Manusia mulia karena memiliki bentuk dan rupa badan jasmani yang utuh sempurna indah dipandang.
5. Manusia mulia karena dapat mengembara dimuka bumi, dilaut dan diangkasa dengan berbagai macam kendaraan buatan sendii.
6. Manusia mulia karena diberi rizki oleh Allah , dari berbagai macam ragam makanan, buah-buahan dan minuman yang baik-baik, lezat dan bergizi.
C. Kesimpulan
Menurut Maulana Muhammad Ali, menafsirkan Bangsa Arab adalah ummi, bangsa yang tidak dapat membaca dan menulis, kecuali hanya sebagian kecil saja, nabi Muhamad sendiri tidak dapat menulis dan membaca, namun demikian wahyu pertama yang beliau terima adalah suatu perintah supaya membaca. Arti perintah ini dijelaskan dalam surat al alaq ayat 1, adapun ayat 2 adalah sisipan yang menerangkan asal mula manusia. Perintah supaya membaca itu diulang dalam ayat 3 dengan tambahan kalimat bahwa Allah itu yang paling murah hati, sekedar untuk menunjukkan bahwa dengan jalan membaca dan menulis, manusia dapat mencapai derajat yang mulia, sedangkan ayat 4 menerangkan bahwa ilmu itu diperoleh dengan menjalankan pena.
Peristiwa yang menyangkut turunnya wahyu yang pertama diuraikan dalam beberapa hadits shahih dan dari hadits-hadits ini terang sekali bahwa jawaban Nabi Muhamad SAW yang pertama kali kepada Nabi Muhamad pertama kali kepada malaikat yang mengemban wahyu ini adalah bahwa beliau tidak dapat membaca.
Sebenarnya Allah telah memulyakan manusia ssehingga ia bisa berjalan diatas daratan, berlayar dilautan sebagai ikan dan terbang laksana burung. Selain itu Allah telah menganugrahinya serba jenis makanan yang lezat rasanya dan rezeki yang tidak ternilai harganya. Pada jaman sekarang nampak jelas kelebihan manusia dari makhluk lainnya, karena ia telah dapat menggunakan tenaga alam.
Tetapi amat sayang kebanyakan kaum muslimin belum mendapat kelebihan yang tinggi itu, karena mereka tidak menuntut ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kepandaian baru itu.
Sabtu, 05 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar