Sabtu, 05 Desember 2009

PERAN PENDIDIKAN ISLAM
DALAM ERA GLOBALISASI


Pendahuluan
Pendidikan adalah suatu proses upaya untuk meninngkatkan nilai-nilai prilaku seseorang atau kelompok dari keadaan tertentu menjadi suatu keadaan yang lebih baik. Pendidikan sebagaimana dalam Undang-undang Nomor 2 tahun
1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang isinya tentang: Pendidikan dalam
Penyelenggaraannya dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah (UU RI.NO 2; 10 AYAT 1, 1990:5). Pendidikana jalur sekolah berarti pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
Pendidikan berasal dari kata didik diberi awalan pe- dan akhiran –an. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya penngajaran dan pelatihan. Dalam bahasa inggris istilah pendidikan disebut education berarti pengembangan dan bimbingan. Menurut Naquib Al-attas istilah pendidikan secara konseptual dikaitkan daengan kata-kata latin educate atau dalam bahasa inggris educe yang berarti menghasilkan, mengembangkan dan mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik maupun material.
Kehadiran pendidikan Islam, baik ditinjau secara kelembagaan maupun nilai-nilai yang ingin di capainya masih sebatas memenuhi tuntutan bersifat formalitas dan bukan sebagai tuntutan yang bersifat substansial, yakni tuntutan untuk melahirkan manusia-manusia aktif penggerak sejarah. Walaupun dalam beberapa hal terdapat perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan yang terjadi sangat lamban , sementara gerak perubahan masyarakat sangat cepat, maka disini pendidikan Islam terlihat selalu tertinggal dan arahnya semakin terbaca tidak jelas.
Dalam skala sistem pendidikan nasional, pendidikan agama merupakan salah satu unsure pendidikan sekolah dan luar sekolah yang memiliki peranan teramat penting dalam rangka mempersiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan sehingga menguasai pengetahuan khusus tentang ajaran agama guna menjalankan peranannya di masa-masa yang akan datang (GBHN, 1986:6).
Dalam perkembangannya pendidikan Islam telah melahirkan dua pola pemikiran yang kontradiktif, keduanya mengambil bentuk yang berbeda, baik pada aspek materi, sistem pendekatan atau dalam bentuk kelembagaan sekalipun. Dua model bentuk yang dimaksud adalah pendidikan islam yang bercorak tradisional dan pendidikan islam yang bercorak modern.
Di Indonesia, salah satu lembaga pendidikan agama Islam yang pertama dan tertua adalah pesantren atau pondok pesantren (Yusuf Amir Feisal, 1995 : 194). Pondok pesantren pada dasarnya adalah sebuah sarana pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seseorang atau lebih guru yang lebih dikenal sebutan “kyai”. Sementara sarana untuk siswa tersebut berada dalam lingkungan kompleks dimana kyai tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid ubtuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.
Perubahan masyarakat yang terpenting pada awal abad ke-21 ini, ditandai dengan perkembangn teknologi komunikasi, transfortasi, dan informasi yang sedemikian cepat. Dengan itu dunia semakin “kecil” dan mudah di jangkau. Apa yang terjadi dibelahan bumi paling ujung dapat segera diketahui oleh masyarakat yang berada di ujung lain.
Dari sisi politik dapat dikatakan bahwa masyarakat global dewasa ini sangat dekat dengan isu-isu popular, seperti keterbukaan, hak asasi manusia, dan demokratisasi. Demikian pula dari sudut ekonomi, perdagangan dan pasar internasional.
Proses globalisasi dianggap berpengaruh atas kelangsungan perkambangan identitas tradisional dan nilai-nilai agama. Kenyataan tearsebut tidak lagi dapat dibiarkan oleh masyarakat agama. Karenanya, respon-respon kontruksif dari kalangan pemikir dan aktivitas agama terhadap fenomena diatas menjadi sebuah keharusan. Sebenarnya yang terjadi adalah dialog positif antara prima facie norma-norma agama dengan dengan realitas empirik yang selalu berkembang. Meskipun demikian penting untuk dicatat, bahwa pertemuan masyarakat agama dengan relitas empiric tidak selalu mengambil bentuk wacana dialog yang konstruktif. Alih-alih yang muncul adalah mitos-mitos ketakutan yang membentuk kesan, bahwa globalisasi dengan serta merta menyebabkan posisi agama berada di pinggiran.
Kekhawatiran-kekhawatiran diatas sepenuhnya dapat dipahami. Meskipun demikian, hendaknya masyarakat agama tidak kehilangan penglihatan yang lebih luas. Sebanding dengan berkembangnya proses globalisasi kehidupan social politik Amerika menyebut contoh kasus sebuah Negara yang sering dipandang sebagai secular bergerak kekanan. Fenomena ini menandai bangkitnya kesadaran kolektif akan arti penting agama dalam kehidupan social, budaya, ekonomi dan politik Negara itu.














Peran Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan Islam mennurut beberapa ahli pendidikan sebagai berikut :
1. Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa pendidikan merupakan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkakn hkum-hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam.
2. Abdul Rahmat Nahlawi mengatakan bahwa pendidikan pengaturan pribadi masyarakat secara logis maupun kolektif.
3. Burian Somad mengatakan pendidikan Islam bertujuan membentuk individu menjadi maluk yang bercorak diri dan berderajat menurut ukuran Allah SWT.
4. Musthafa Al-Gulayani mengatakan pendidikan Islam bertugas menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan petunjuk dan nasehat sehingga akhlak itu menjadi kemampuan jiwanya.
5. Hasan Langgulung mengatakan pendidikan Islam meliputi tiga fungsi yakni pertama menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat, kedua memindahkan ilmu pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda, dan ketiga memindahkan nilai-nilai yang bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat.
Ilmu agama adalah suatu ilmu yang mengatur tata cara keimanan, peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan lingkungannya.
Baik secara teologi maupun sosiologi, agama dapat dipandang sebagai instrument untuk memahami dunia. Dalam koontrks ini hampir tak ada kesulitan bagi agama manapun untuk menerima premis tersebut. Secara teologis lebih lebih islam. Hal iitu dukarenakan oleh watak omnipresent agama. Yaitu, agama baik melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya ”hadir di mana-mana” ikut mempengaruhi bahkan membentuk struktur sosial, budaya, ekonomi dan politik dan kebijakan publik.
Dari uraian diatas pendidikan islam berarti bimbingan yang dilakukan seseorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan supaya terdidik mempunyai kepribadian muslim. Dan hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan baik laki-laki maupun perempuan dan berlangsung sepanjang hayat. Dalam pendidikan islam mempunyai rumusan yang jelas dalam bidang tujuan, guru, metode dan sarana.
Dilihat dari sejarahnya Pendidikan Islam meliputi:
Periode pembinaan islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Periode pertumbuhan pendidikan islam yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah.
Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan islam yang berlangsung sejak permulaan Daulat Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu aqliyah dan timbulnya Madrasah Siria, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan islam.
Periode kemunduran pendidikan islam. Yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ketangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat.
Periode pembaharuan pendidikan islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditandai oleh gejala-gejala kebangkitan umat dan kebudayaan islam.
Selanjutnya dilihat dari segi kelembagaannya pendidikan Islam mengenal adanya pendidikan yang dilaksanakan di rumah, masjid, pesantren dan madrasah dengan berbagai macam corak pendekatannya.
Didalam al Qur’an dapat di jumpai berbagai metode pendidikan seperti metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, demontrasi, penugasan, teladan, pembiayaan, karyawisata, cerita, hukuman, nasihat dan sebagainya. A-Qur’an meletakan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinya manusia itu memiliki potensi yang menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut
Dalam islam dikenal teori pendidikan islam, yaitu pendidikan sebagai disiplin ilmu yang yang merupakan konsep pendidikan. Melalui pendidikan manusia belajar menghadapi alam semesta demi mempetahankan kehidupannya. Begitu pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukan yang tinggi dalam dalam ajaran islam.
Tujuan pendidikan islam menurut ahli pendidikan sebagai berikut :
Ibnu Khaldun mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri dari dua bagian, pertama tujuan keagamaan, maksudnya beramal untuk akhirat, dan kedua tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan.
Al Ghazali berpendapat tujuan pendidikan Islam yang utama adalah Ibadah dan taqarrub kepada allah serta kesempurnaan insani dunia dan akhirat.
Saleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abul Nazid berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam adalah untuk mendapatkan keridaan Allah dan mengusahakan penghidupan.
Musthafa Amin mengatakan tujuan pendidikan adalah mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akhirat.
Al-Abrasy merumuskan tujuan pendidikan Islam dalam lima pokok. Pertama pembentukan akhlak mulia. Kedua persiapan untuk hidup dunia dan akhirat. Ketiga persiapan untuk mencari rezeki danpemeliharaan segi kemanfaatan. Keempat menumbuhkan roh ilmiah para remaja dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu. Kelima mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehungga mudah untuk mencari rezeki.
Abdul Fayad berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam terdiri dari dua bagian. Pertama persiapan untuk hidup akhirat. Kedua membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesannya hidup bahagia.
Pendidikan Islam memiliki rumusan yang jelas, yaitu bidang tujuan, kurikulum, guru, metode dan sarana. Tujuan pendidikan dalam islam adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah pendidikan berakhir.
Tiga klasifikasi tujuan pendidikan adalah sebagai berikut.
Tujuan umum adalah tujuan yang akan tercapai dengan semua kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.
Tujuan semester adalah tujuan yang di capai setelah siswa diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum.
Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar siswa menjadi manusia sempurna setelah ian menghabisi sisa hidupnya.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir pendidikan islam, maka suatu permasalahan pokok yanng sangat perlu mendapt perhatian adalah penyusunan rancangan program pendidikan yang di jabarkan dalam kurikullum. Pengertian kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman pendidikan yang dirancang dan diselenggarakannya oleh lembaga pendidikan bagi peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Dalam kurikulum pendidikan islam dikenal dengan istilah Manhaj berarti jalan terang yang dilalui pendidikan bersama siswa untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa. Ciri-ciri kurikulum pendidikan islam adalah sebagai berikut :
1. Agama dan akhlak merupakan tujuan utama. Segala yang di ajarkan dan yang di amalkan harus berdasarkan Alquran dan sunah serta ijtihad para ulama.
2. Mempertahankan pengembangan dan bimbingan terhadap semua asfek pribadi siswa dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.
3. Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum, pengalaman dan kegiatan pengajaran.
Adapun prinsip menentukan kurikulum adalah sebagai berikut :
1. Mata pelajaran dapat berpengaruh terhadap pendidikan, jiwa dan kesempurnaan jiwa siswa.
2. Mata pelajaran yang diberikan memberikan petunjuk dan tuntutan untuk menjalani hidup yang mulia.
3. Mata pelajaran sebaiknya secara langsung dapat memberikan manfaat bagi siswa didik dalam hidupnya.
4. Mata pelajaran hendaknya mencerminkan pendidikan kejiwaan yang sesuai dengan bakat dan keinnginan siswa.
5. Mata pelajaran hendaknya dapat menjadi alat pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.
Berpedoman ruang lingkup pendidikan islam yang ingin di capai, maka kurikulum pendidikan islam itu berorientasi pada tiga hal yaitu :
!. Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah)
2. Tercapainya hubungan hablum minannas (hubungan dengan manusia)
3. Tercapainya tujuan hablum minal alam (hubungan dengan alam)
Ketiga permasalahan pokok pendidikan Islam di Indonesia itu melahirkan beberapa problema lainnya seperti structural, cultural dan sumber daya manusia. Pertama, secara structural lembaga-lembaga islam negeri berada langsunng di bawah control dan kendali Departemen Agama, termasuk pembiyaan dan pendanaan. Problema yang timbul adalah alokasi dana yang di kelola oleh Departemen Agama sangat terbatas. Dampaknya kekurangan fasilitas peralatan dan juga terbatasnya upara pengembangan dan kegiatan non fisik. Berkenaan dengan masalah struktural ini juga lembaga Pendidikan Islam dihadapkan pula dengan persoalan dengan diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah. Bagaiman kebijakan Departemen Agama tentang hal ini. Di satu sisi masalah pendidikan termasuk salah satu dari bagian yang pengelolaannya di serahkan ke daerah, sedangkan masalah agama tetap berada pengelolaannya di pusat. Sehubungan dengan itu perlu dikaji secara cermat dan arif yang melahirkan kebijakan yang tetap mempertahankan eksistensi lembaga pendidikan Islam dan juga perlakuan yang adil dan merata dari segi pendalaman.
Kedua kultural, lembaga pendidikan islam terutama pesantren dan madrasah banyak yang menganggapnya sebagai lembaga pendidikan “kelas dua”. Sehingga persepsi ini mempengaruhi masyarakat muslim untuuk memasukan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut. Pandangan yang menganggap lembaga pendidikan islam tersebut sebagai lembaga pendidikan ”kelas dua” dapat dilihat dari outputnya, guru dan sarana pendidikan yang terbatas. Dampaknya adalah jarangnya masyarakat muslim yang terdidik dan berpenghasilan yang baik, serta yang memiliki kedudukan / jabatan, memasukan anaknya ke lembaga pendidikan Islam seperti di atas.
Ketiga sumber daya manusia, para pengelola dan pelaksana pendidikan di lembaga pendidikan Islam yanng terdiri dari guru dan tenaga administrasi perlu di tingkatkan. Tenaga guru dari gi jumlah dan profesional masik kurang. Guru bidang umum (Matematika, IPA, Biologi, Kimia dan lain-lain) masih belum mencukupi.
Melihat masa depan yang akan datang yang penuh dengan tantangan sudah barang tentu tidak bisa menyesuaikan permasalahan jika pendidikan Islam tersebut masih terikat dikhotomi. Berkenaan dengan itu masih perlu diprogramkan upaya pencapaiannya, mobilisasi pendidikan Islam tersebut, misalnya melakukan rancangan kurikulum, baik merancang keterkaitan ilmu agama dan umum maupun merancang nilai-nilai Islami pada setiap pelajaran, personifikasi pendidik di lembaga pendidikan sekolah islam, sangat dituntut memiliki jiwa keislaman yang tinggi dan lembaga pendidikan Islam yang dapat merealisasikan konsep kurikulum pendidikan Islam seutuhnya.








Peranan Ilmu Pendidikan pada Era Globalisasi

Kehidupan manusia ingintetap terpelihara dengan baik, dan ilmu pengetahuan sosial di harapkan dapat menjadi salah satu alternatif yang strategis bagi pengembangan manusia Indonesia seutuhnya pada era globalisasi tersebut.
Globalisasi adalah proses pertumbuhan negara-negara maju, yaitu Amerika, Eropa dan Jepang melakukan ekspansi besar-besaran, kemudian berusaha mendominir dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer dan ekonomi.
Pengaruh mereka disegala bidang terhadap negara-negara berkembang yang baru terlepas dari belenggu penjajahan berdampak positif dan negatif sekaligus. Berdampak positif karena ada beberapa segi ikut mendorong negara-negara baru berkembang ikut maju secara teknis, sserta menjadi lebih sejahtera secara material. Sedangkan dampak negatifnya antara lain berupa: (1) munculnya teknorasi dan tirani yang sangat berkuasa. (2) didukung oleh alat-alat teknik modern dan persenjataan yang canggih.
Bukan hanya ilmu pengetahuan, mesin-mesin, pessawat hipermodern dan persenjataan sering di salah gunakan. Dijadikan mekanisme operasionalistik yang menjarah dan menghancurkan. Sebagai akibatnya timbul peperangan, penderitaan dan malapetaka di dunia. Negara-nagara maju itu pada berbagai segi, terutama di bidang teknis, ilmu pengetahuan dan manajerial memiliki segugus besar kelebihan dan kelimpahan, berupa science, teknik canggih, industri dan produksi yang berlimpah. Karena itu semua kelimpahan tadi perlu di disbustrikan keluar, dan di jadikan barang dagangan yang menguntunngkan. Oleh sebab itu mereka memerlukan laha pasar lebih luas lagi untuk menjual kelebihan hasil produksinya. Maka langkah niaga mereka yang semula spontan, damai, ramah, humaniter dan fasifistis, kemudian berubah menjadi agresif, ekspansif, eksploitatif, menjarah dan imperialistik. Tidak lama kemudian mereka menjadi kekuatan neo-kolonialisme (militer- politik-ekonomi) yang cepat mengembangkan ssayap kekuasaannya ke negara-negara yang lemah sistem perekonomiannya.
Sehubungan dengan nafsu ekspansi mereka itu, teknik dan ilmu pengetahuan yang di jadikan alat politik dan alat ekonomi perlu disamarkan. Misalnya dalam bentuk misi bantuan pengembangan, program pembangunan daerah miskin, misi perdamaian, tugas kemanusiaan, program kerjasama pendidikan, misi kebudayaan dan lain-lain. Maka berkaitan dengan derasnya arus globalisasi yang di tunggangi aksi-aksi kolonial tersembunyi perlu lebih meningkatkan kewaspadaan nasional, di samping memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Globalisasi melibatkan pasar kapitalitas dan seperangkat relasi sosial dan aliran komoditas, kapital dan teknologi, ide-ide, bentuk kultur dan penduduk yang melewati batas nasional via jaringan masyarakat global, transmutasi teknologi dan kapital bekerja sama menciptakan dunia baru yang mengglobal dan saling behubung. Revoluasi teknologi yang menghasilkan jaringan komunikasi komputer, transportasi dan pertukaran merupakan pra-anggapan dari ekonomi global, bersama dengan perluasan dari sistem pasar kapitalis dunia yang menarik lebih banyak area dunia dan ruang produksi, perdagangan dan konsumsi ke alam orbitnya.
Globalisasi berarti bahwa mulai sekarang tidak ada kejadian di planet kita yang hanya pada situasi lokal terbatas. Semua temuan, kemenangan dan bencana mempengaruhi seluruh dunia. Globalitas adalah proses baru setidaknya: pertama, pengaruhnya atas ruang geografis jauh lebih ekstensif. Kedua, pengaruhnya atas waktu jauh lebih stabil, pengaruhnya terus berlanjut dari waktu ke waktu. Ketiga, ada densitas (density) yang lebih besar untuk ”jaringan transnasional, hubungan dan arus pekerjaan jaringan”.
Ada dua event yang hampir bersamaan munculnya pada saat bangsa Indonesia memasuki milenium ketiga. Pertama globalisasi, diakibatkan kemajuan ilmu dan teknologi terutama komunikasi dan transfortasi sehingga dunia semakin tanpa batas. Dalam budaya global ini ditandai dalam bidang ekonomi perdagangan akan menuju terbentuknya pasar bebas, baik dalam kawasan ASEAN, Asia Pasifik bahkan akan meliputi seluruh dunia. Dalam bidang politik akan tumbuh semangat demokratisasi.
Dalam bidang budaya akan terjadi pertukaran budaya antar bangsa yang berlangsung begitu cepat dan saling mempengaruhi, dalam bidang sosial akan muncul semangat konsumeris yang tinggi disebabkan pabrik-pabrik yang memproduksi kebutuhan konsumeris akan berupaya memproduk barang-barang baru akan bertukar dengan cepat pada tiap saat dan merangsang manusia untuk memilikinya.
Event kedua adalah reformasi, dalam era reformasi ini diharapkan akan muncul Indonesia baru. Wajah baru Indonesia ini adalah wajah baru yang akan memunculkan madani, yakni masyarakat berperadaban dengan menekankan kepada demokratisasi dan hak-hak manusia, serta hidup dala berkeadilan.


Kesimpulan
Dari berbagai uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Ilmu-ilmu keislaman yang selama ini terkesan tertutup, sebenarnya tetap konsis dapat diaktualisasikan, dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman. Mengembangkan ilmu-ilmu keislaman, harus melengkapi dirinya dengan ilmu Bantu dan menguasai teori-teori penelitian lengkap dengan metodenya, baik secara teoritis maupun praktis.
Pemahaman agama yang komprehensif, actual, segar dan integral telah memberikan petunjuk praktis tentang bagaimana ilmu agama itu dipelajari dan diajarkan. Dengan cara ini, umat islam dapat memahami agama yang utuh dan integral. Juga dapat mengembangkan dan merespons berbagai persoalan actual dalam kehidupan modern.
Pendidikan agama sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status social, alat menguasai teknologi, serta media untuk menguak rahasia alam raya dan manusia.
Pendidikan islam bertujuan membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniah menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta dengan cara mengembangkan aspek struktural, kultural dan berupaya meningkatkan sumber daya manusia guna mencapai taraf hidup yang pari purna.
Era globalisasi memunculkan era kompetisi yang berbicara keunggulan, hanya manusia unggul yang akan survive didalam kehidupan yanng penuh persaingan, karena itu salah satupersoalan yang muncul, bagaimana upaya untuk meningkatkan kuallitas manusia Indonesia. Membentuk manusia unggul partisipatoris, yakni manusia yang ikut serta aktif dalam persingan yang sehat untuk mencari yang terbaik. Keunggulan partisipatoris dengan sendirinya berkewajiban untuk menggali dan mengembangkan seluruh potensi manusia yang akan digunakan dalam kehidupan yang penuh dengan persaingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar